- CHARISMATIK
Istilah ini dipergunakan mula-mula oleh Max Weber. Pemimpin di sini diangkat berdasarkan atas suatu kepercayaan bahwa pemimpin itu dapat memberikan berkah karena "tuah/mantra"nya, keselamatan untuk melindungi rakyat, karena dianggap memiliki ilmu gaib. kemimpinan semacam ini tidak hanya terdapat dalam masyarakat yang primitif, tetapi justru pada masyarakat modernpun masih terdapat kepercayaan akan adanya pemimpin-pemimpin yang dianggap mempunyai "charisma" itu.Sukses dan prestasi yang dicapai oleh seorang pemimpin menimbulkan rasa kagum dan terpesona, sehingga timbul fikiran-fikiran yang mengatakan bahwa mustahil bila pimpinan itu tidak memiliki "ilmu gaib". Tokoh-tokoh pemimpin inilah yang akhirnya menjadi "diktator" - TRADITIONALPemimpin semacam inilah adalah pemimpin yang dipilih atas dasar kebiasaan turun temurun/tradisi. Misalnya pada zaman feodal kedudukan: raja, bupati bahkan lurah di desa pun orang cenderung memilih turunan atau sanak famili dari pejabat lama.
Sistem ini tidak memperhitungkan kecakapn calon pemimpin, yang terpenting adalah melestarikan tradisi, dan pada umumnya rakyat begitu yakinnya akan kebaikan tradisi yang dianut. Melanggar tradisi berarti melanggar adat, sehingga jarang sekali rakyat biasa berani melanggar kebiasaan itu. - RATIONAL LEGALPemimpin seperti itu dipilih berdasatrkan dua prinsip, yaitu rational dan legal. Rational bila pengangkatan itu didasarkan atas landasan kecakapan, pengalaman, atau pendidikan dari yang bersangkutan dan legal, karena juga berlandasan hukum atau peraturan yang berlaku.
Dengan demikian dapat terjadi, seorang yang diangkat jadi pemimpin karena ditunjuk atau ditetapkan dari atas, dengan adanya pertimbangan-pertimbangan tersebut tadi yaitu kecakapan, pengalaman, pendidikan, jasa-jasa, pertimbangan politis dan sebagainya. Misalnya: pemilihan pemimpin organisasi-organisasi, jawatan-jawatan pemerintah dan sebagainya.
Sebaliknya meskipun seorang memiliki persyaratan yang memadai untuk menjadi pemimpin belum tentu memadai menjadi pemimpin karena faktor "kesempatan". Sebaliknya orang yang kurang memiliki persyaratan untuk menjadi pemimpin karena "adanya kesempatan" maka jadilah ia seorang pemimpin. Ternyata faktor kesempatan juga memegang peranan penting.
dikutp dari buku "Psikologi Sosial" Drs. H. Abu Ahmadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar